Anak Jaman Now Depresi Karena Media Sosial? Benarkah?
Kok agak serem ya baca judulnya. Eh.. tunggu dulu, baca keseluruhannya dulu ya.

Pertama, apa sih itu depresi?
Depresi merupakan sebuah penyakit mental yang berdampak buruk pada suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya. Tapi, depresi itu bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter ya.
Lalu apa hubungannya depresi dengan media sosial?
Tahu ga sih kamu, awalnya media sosial itu ditujukan untuk membantu kita agar dapat terhubung dengan orang lain (teman lama, keluarga atau bahkan pacar) tanpa dibatasi waktu dan tempat. Namun, seiring berjalannya waktu, media sosial ga hanya sekedar membuat orang bisa terkoneksi satu dan lainnya tapi dapat membuat seseorang menajdi depresi. Kenapa?

  1. Adanya Tuntutan yang Tinggi
    Media sosial memicu kita untuk terus menampilkan yang terbaik dan harus lebih dari orang lain. Kalau si A udah pergi ke pantai itu, saya juga harus kesana. Kalau si B udah punya barang itu saya juga harus punya. Belum lagi kalau ada tempat baru, rasanya harus menjadi orang pertama yang meng-upload di media sosial agar terlihat hebat dan merasa puas. Tapi, dampaknya? Ya  ujung-ujungnya stres bahkan depresilah. Kenapa? Karena ga akan ada habisnya, selalu ada tempat / barang / apapun yang selalu baru. Merasa harus untuk mengikuti itu semua akan membuatmu terjebak dengan rasa depresi karena kenyataannya kamu ga bakalan sanggup untuk memenuhi semuanya karena kita kan manusia yang punya batasan kan?
  2. Merasa Minder
    Melihat berbagai postingan yang di post oleh temanmu di media sosialnya, membuatmu mulai membandingkan kehidupanmu dengan mereka sehingga jika kamu tidak menyamai mereka, kamu pun mulai merasa minder. Padahal, kenyataannya, media sosial hanya menggambarkan sedikit sekali tentang orang tersebut bahkan malah ga menggambarkan dirinya. Kenapa? Karena biasanya, orang akan cenderung membagikan aspek yang paling menarik dan yang baik dari hidupnya di sosial media. Proses alam bawah sadar yang disebut para peneliti sebagai “perbandingan sosial” dan ini bisa memicu perasaan depresi pula menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Social and Clinical Psychology.
  3. Berpura-pura Bahagia
    Alasan lain mengapa media sosial dapat menyebabkan depresi adalah ketika kamu harus berpura-pura untuk menjadi bahagia hanya untuk ditampilkan di media sosialmu meskipun mungkin keadaan sebenarnya tidaklah demikian. Belum lagi, kita tidak lagi menjadi diri sendiri saat menulis sesuatu atau mengunggah foto kita di medsos.
  4. Susah Fokus
    Penelitian dari universitas AS ‘University of Pittsburg’ menyimpulkan bahwa mereka yang punya 7 akun medsos atau lebih, memiliki risiko depresi tiga kali lebih tinggi. Pembagian fokus jadi salah satu penyebabnya. Memiliki banyak medsos jelas akan membuatmu tergoda untuk mengecek akun pribadimu terus-menerusn apalagi kalau notifikasinya kamu nyalain. Dari sana pikiran dan tekanan pun bisa bermunculan. Banyaknya berita negatif dan komentar menyakitkan hati yang sekarang jadi tren di medsos disebut ampuh bikin kamu jadi depresi dan banyak pikiran.

Kamu tentu ingin hidupmu bahagia dan tidak perlu mengalami depresi?
Kurangin-kurangin deh main medsosnya, karena apa yang kamu lihat disana belum tentu sesuai kenyataannya. Lagipula semakin banyak waktu yang kamu habiskan di medsos semakin banyak waktu yang terbuang sia-sia. Waktu yang seharusnya bisa saja digunakan untuk hal yang jauh lebih bermanfaat seperti ngobrol dengan ortu atau melakukan hobimu.

Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik.
Kalau ponsel kamu aja udah “smartphone” harusnya kamu juga jadi “smart people” donk.


banner rumah curhat