Jatuh cinta dengan sahabat? Boleh ngga sih? Kalau boleh, aneh ngga sih?

Tentunya kamu pernah punya temen laki-laki yang bisa dibilang “akrab” dan yang kamu pikir dia cuma bakal jadi sebatas teman. Tapi, ketika kamu merasa dia adalah orang yang paling bikin kamu nyaman, apa yang pertama muncul di pikiran kamu?

Cinta? Pasti otak kamu bakal terisi dengan protesan-protesan ngga danta dan tentunya memberontak untuk meng-iya-kan. Dimana hati kamu udah melewati batas dan otak kamu memaksanya untuk kembali. Dimana hati kamu ingin berjalan maju dan otak kamu ingin mejaga jarak aman. Kalau seperti ini, bagimana?

Pertama, siapa sih yang bakal tau kapan cinta itu bakal muncul? Pernah kamu merencanakan kapan kamu bakal jatuh cinta sama dia? Haha. Tentunya, semua orang ngga bakal pernah memprediksi kapan mereka bakal jatuh cinta. Kalau kamu pikir kamu udah terlambat untuk jatuh cinta sama dia, sahabat kamu. Engga, kamu salah. Mungkin kamu mikir kenapa ngga jatuh cinta sama dia sebelum kalian sahabatan? Balik lagi, siapa yang bakal tau kapan cinta itu muncul?

Jangan takut jatuh cinta di waktu yang tidak tepat, karena kapan pun itu, waktu tidak pernah salah.

Kedua, target jatuh cinta. Iya, kamu pasti pernah menyukai orang, mengaguminya, dan mungkin kamu menyebutnya “cinta”. Tapi apa benar itu cinta? Gimana kalau kamu ternyata jatuh cinta pada orang yang tidak terduga. Jatuh cinta sama sahabat? Kenapa ngga? Orang yang selalu kamu beri embel-embel “sahabat” bisa aja jadi target jatuh cinta kamu. Boleh?

Boleh, super duper boleh. Kamu pasti takut dimana moment-moment bahagia kalian menjadi moment-moment awkward. “Uh, gimana ya kalau dia jauhin aku? Gimana ya kalau aku dianggap aneh?” Lucu. Kamu ngga perlu mikir yang aneh-aneh. Kenapa kamu ngga nyoba buat memulai? Kalau kamu ngga memulai, gimana kamu bakal tau respon apa yang bakal dia berikan?

Ketiga, otak dan hati tidak pernah berkonspirasi. Di dalam moment apapun, otak dan hati pasti saling berlawanan. Lalu, mana yang bakal kamu ikuti? Kamu perlu tau, biarpun otak dan hati selalu berlawanan, tapi mereka ngga pernah saling mengalahkan. Saat hatimu merasakan bahwa kamu jatuh cinta pada sahabatmu sendiri, otakmu akan merespon bahwa, “Aku ngga boleh jatuh cinta sama dia.” Artinya, otakmu menyadari isi hatimu. Dan ketika otakmu berkata untuk tidak jatuh cinta pada sahabatmu, hatimu merasa khawatir karena takut dia menjauh, artinya hatimu menyadari kenapa otakmu menolak.

Ikuti salah satu dari mereka, maka salah satu dari mereka akan berjalan bersamamu. Ketika otakmu salah, hatimu akan membenarkan. Ketika hatimu salah, otakmu akan membenarkan. Pilihlah apa yang kamu pikir terbaik untukmu.

Jadi, jatuh cinta sama sahabat? Ngga perlu mikir ulang! Kamu berhak mencintai dia, dan dia berhak kamu cintai. Balasannya? Guys, jatuh cinta itu sebuah berkat, dan dicintai balik adalah hadiahnya. Ketika kamu dengan ikhlas meletakkan hatimu padanya, kamu ngga perlu mikir hadiahnya. Sahabat, bukan halangan untuk jatuh cinta.


banner rumah curhat