Awalnya aku tak punya usaha untuk memiliki sebuah cinta.
Aku tak ingin mempunyai cinta. Karena berulang kali kucoba mendekati cinta itu, namun cinta itu pergi.
Entah pergi kepada temanku disana atau kepada orang yang tak kukenal.

Kebosanan menghampiriku setiap hari. Melihat diluar sana begitu banyak orang berpasang-pasangan membagi pengalaman dengan penuh cinta. Sempat terlintas dalam hatiku iri kepada mereka, namun ketika kuingat cinta yang dulu kudekati menghilang begitu saja, tiba-tiba hati ini perih. Aku kembali menelan keperihanku dalam hati. Memilih menutupi semuanya dengan keceriaanku dan tak satupun orang yang tahu deritaku.
Sampai akhirnya usiaku pun menjadi semakin bertambah.
Aku tersudut dalam banyak hal dan rasa trauma.
Seakan tak memiliki daya, aku pun hanya bisa berserah kepadaNya.
Akhirnya kau pun muncul ke dalam kehidupanku. Mungkinkah doaku selama ini didengar Tuhan? Aku berharap seperti itu.
Kau mengerti setiap apa yang aku alami. Traumaku terobati karenamu.
Keburukanku dan keburukanmu dimasa lampau sudah menjadi masa lalu buatmu dan buatku.
Sekarang hanya ada canda dan tawa di setiap bibir kita.
Kamu yang mengerti keadaanku, dan aku pun demikian.
Kami saling memberi semangat dan saling menghormati.
Aku merasakan bahagia bersamamu. Setiap detik aku selalu memanfaatkan untuk mendapat pengalaman yang indah bersamamu.
Aku memberikan segalanya untukmu.
Hari berganti hari, kita berdua menjadi tahu baik buruknya tingkah kita.
Kamu orang yang baik kepada semua orang.
Menyakiti adalah hal yang tidak mungkin kamu lakukan.
Namun hal itu menjadi ketakutan untukku dan menjadi pedang buatku.
Banyak orang yang menyukai sifat ramahmu dan akhirnya terperangkap dalam perasaan dia sendiri.
Aku keliru.
Aku cemburu.
Aku melakukan hal yang salah.
Aku menyakitimu.
Seharusnya tak kulakukan hal ini kepadamu. Aku terlalu kekanak-kanakan. Tak peduli dirimu dan sekitarmu.
Traumaku dimasa lampau teringat kembali dalam otakku. Aku perlu disembuhkan.
Aku bersyukur bertemu denganmu.
Hatiku terobati dengan sikap ramah dan sifat baikmu.
Kamu memaafkanku.
Kamu memahamiku.
Kamu tidak marah hanya karena perlakuanku kepadamu.
Kamu yang selalu berkata, kekuranganmu adalah kemaklumanku.
Kamu obatku.
Tak kuasa aku menahan semua ini dalam hatiku. Aku mendapat seorang yang baik dari Tuhan.
Dokter untuk traumaku.
Sekarang aku juga ingin berusaha untuk memaklumi dan memahaminya dalam segala hal.
Aku menjadi sangat berharga ketika berada di sampingmu.
Tatapanmu yang selalu mengatakan “aku cinta kamu sungguh”, tatapan itu menjadi pedomanku.
Walaupun aku terjebak dalam banyak hal, kamu mau memaklumiku.
Kamu dapat mengerti kehidupanku.
Kamu berbeda dari yang lain. Kamu anugerah dalam hidupku.
Dalam kain yang halus, kita berlanjut dalam sebuah pelaminan yang suci.
Perjalanan yang panjang akan kami arungi berdua.
Bermodalkan “kemakluman dan memahami” kami mau saling mengerti.
Tidak ada di dunia ini orang yang dapat sempurna karena sempurna hanya milik Pencipta kita.
Aku sekarang sadar bahwa kepercayaan sangat penting.
Tidak hanya lewat bibir saja, namun hati dan tingkah laku kita juga memiliki peran yang utama.
Aku melarang egoku untuk bertindak. Sekarang yang ingin kami lakukan bersama yaitu saling mengerti, memahami dan memaklumi karena setiap kami tidak bisa sempurna.
Cinta kami tidak akan pernah pudar sampai waktu menelan kami berdua.
Sampaikan cinta kami kepada semua orang.


banner rumah curhat