Pengalaman yang menyakitkan engkau lewati dengan kekuatan hatimu.
Sembilan bulan kau menahan perihnya dalam tubuh.
Menggendongku setiap saat. Memelukku setiap saat.
Terkadang kakiku menendang tubuhmu, namun kau tidak pernah menyimpan dendam padaku.
Kau menanggung nyawaku. Bahkan ketika aku ingin melihat indahnya matahari, kau bersedia mati untukku.
Dan ketika aku hadir di dalam dekapanmu, suaraku yang nyaring seharusnya membuat telingamu menjadi sakit, namun hal itu memberikan kebahagiaan buatmu.
Aku menjadi pusat perhatianmu. Sekalipun banyaknya hal yang kau kerjakan, namun kau tidak melupakanku.
Keringatmu kau acuhkan, lelahmu tak kau ingat, kau kerjakan semua demiku.
Saat aku berada dengan teman-teman sebayaku, kau selalu menjaga pergaulan sekitarku.
Memiliki hubungan yang serius dengan lawan jenis tak kau anjurkan ketika umurku belum cukup tujuh belas tahun.
Kau selalu bilang, “jangan kau ikut seperti temanmu lainnya, mereka belum dewasa”
Terkadang hatiku menjadi sebal, tapi aku tak sanggup untuk melawanmu karena semua yang sudah kau berikan kepadaku.
Ketika kau mengalami masalah, kau pendam sendiri dan kau tanggung sendiri.
Kau tidak ingin membuat orang yang kau sayangi mengalami masalah yang kau tanggung.
Namun semua tidak bisa tertutupi dalam raut wajahmu.
Kerutan dalam dahi mulai tampak dalam wajahmu.
Kulit pada matamu sudah memunculkan lipatan dan garisan kecil yang tidak dapat kau samarkan.
Akhirnya aku mengerti apa yang kau tanggung sendiri selama ini.
Waktu terus berlalu seiringnya jaman dan akupun menjadi dewasa.
Hutang yang kau tanggung sendiri akhirnya mulai kupahami kenapa kau melakukan hal itu.
Sakit yang ku derita ketika ku kecil memaksamu untuk mengambil banyak hutang demi menyelamatkanku.
Kau tidak memikirkan hidupmu sendiri namun kau menantang kehidupanmu sendiri demi aku.
Sekarang aku mengerti apa yang menjadikan kerutan dalam wajahmu yang semakin senja ini.
Menjadi bagian dalam hidupmu untuk menanggung beban bersamamu itu membuatku menjadi bangga bagi hidupku.
Aku tau bahwa apa yang kulakukan saat ini, tidak dapat menandingi apa yang kau lakukan kepadaku selama ini.
Namun kau tak pernah berkeluh kesah. Kau memandangku penuh harapan.
Doamu yang selalu menyertai langkahku dalam hidup ini.
Semangatmu yang menjadi contoh untukku.
Sekarang aku menjadi semakin dewasa dan kau mulai memberikan kebebasan kepadaku untuk memilih pasangan hidup.
Aku mengerti sekarang mengapa kau melarangku memiliki hubungan dengan lawan jenis pada dahulu kala.
Kau menjagaku dari pergaulan bebas sejak masa kecil dan sekarang aku mendapatkan pasanganku yang luar biasa.
Saat aku mempunyai keluarga bersama pasanganku, kau masih saja menjagaku seperti awal mula aku melihat matahari di dunia ini.
Tak berubah cinta dan kasihmu kepadaku sedikitpun.
Ibu.
Ibu yang selalu ada untukku.
Kini usiamu bertambah-tambah terus.
Tubuhmu mulai tak tegak lagi dan jalanmu mulai terseret-seret.
Namun itu semua tidak menghalangi dirimu untuk terus berbagi kasih kepadaku.
Aku sekarang memahami cinta yang kau berikan kepadaku selama ini.
Engkau menjadi contoh yang luar biasa dalam duniaku.
Terima kasih ibu.
Bahkan saat engkau menutup mata pun, semua yang kulakukan tidak akan dapat menggantikan semua yang engkau lakukan kepadaku.
Doamu terus selalu menyertaiku dan sekarang namamu yang akan selalu ada dalam doaku sampai kapanpun.
Terima kasih ibu untuk semua yang kau berikan kepadaku.
Cinta dan kasihmu sungguh tidak terbatas dan tak dapat tergantikan.
Ibu yang terhebat dari yang lainnya. Terima kasih ibu.


banner rumah curhat