Hai para jomblo apa kabar? Aku harap kabar kalian baik-baik saja. Dan aku harap hari kalian selalu dipenuhi tawa dan canda. Yah, namanya juga jomblo harus selalu bahagia donk, gimana temen mau suka sama kalian kalau wajah aja sedih melulu. Aku yakin kalian semua pasti punya seorang sahabat, minimal punya temen lah. Persahabatan yang baik, selalu dibumbui dengan perbedaan pendapat, pertengkaran, terkadang saling mengejek dan tertawa bersama. Tetapi yang membedakan persahabatan yang baik dan buruk adalah diri kita sendiri. Saat kita diuji dengan masalah, apakah kita mampu mencari solusi dan saling memaafkan? Inilah kuncinya semakin persahabatan kita dilanda masalah, maka semakin kuatlah hubungan dengan sabahat kita. Dengan dilandasi rasa saling membangun dan memahami satu dengan yang lain.

Aku pun punya sahabat yang membuatku bahagia saat kita berkumpul bersama seperti kalian. Enaknya punya sahabat tuh, saat kita punya masalah, kita bisa bercerita masalah kita dengan mereka. Terkadang saat kita membagi masalah kita dengan sahabat, perasaan kita akan jauh lebih baik. Sederhana bukan? Hal ini terjadi karena kita cuma ingin didengar saat bercerita. Nah, sekarang yang menjadi masalah kalau kita punya masalah dengan sahabat kita sendiri. Seperti yang aku alami beberapa bulan yang lalu.

1. Perbedaan Karakter, Aku Seorang “Sanguin” dan Sahabatku Seorang “Melankolis”

Tuhan memang menciptakan kita berbeda satu dengan yang lain. Salah satu contohnya aku dan sahabatku. Aku seorang yang suka banget ngobrol, ketemu orang ngga dikenal aja aku ajak ngobrol apalagi sahabat sendiri. Lain halnya dengan sahabatku, dia seorang yang pendiam. Ibarat kata nih, kalau ngga diajak ngobrol, dia tetap diam seribu bahasa. Seperti biasa, tiap kali pulang sekolah kita selalu nongkrong di kantin sekolah. Suatu kali, saat kita sedang asik ngobrol, seorang cewek duduk meja seberang dan kita bisa melihat satu sama lain. Cewek itu menarik dan murah senyum, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku tanya sahabatku, “Bro, kamu ngga mau kenalan sama dia? Cewek di depan kita cakep lho” . Karena Sahabatku pemalu dan pendiam, dia bilang “Kamu aja dah yang kenalan, aku ngga minat”. Singkat cerita, aku memberanikan diri berkenalan dengan cewek itu. Kami tukar kontak bbm dan nomor telepon. Kita mengobrol cukup lama, sebelum dia dijemput orang tuanya.

2. Menerima Kenyataan Pahit Dengan Tindakan Positif

Obrolan pun kita lanjutkan melalui BBM, saat tiba di rumah, aku memanggil dia “dora” karena dia punya poni rambut seperti karatker Dora di program “Dora the Explorer”. Banyak hal yang menjadi topik pembicaraan kita, mulai dari obrolan yang penting sampai yang ngga penting, beginilah anak muda yang sedang jatuh cinta (hahaha…). Kita juga sering pergi bersama entah untuk makan atau nonton film, dan pasti mengajak sahabat kita masing-masing. Jadi kita selalu pergi berempat kemanapun, kecuali saat sedang di kelas. Aku menikmati kebersamaanku dengan mereka semua. Suatu saat aku curhat dengan sahabatku, aku ngobrol panjang lebar dan tiba-tiba dia ngomong “Bro, ternyata aku juga suka si Dora, gimana nih?” Setelah aku mendengar pernyataan ini rasanya seperti menelan pil pahit tapi aku coba berpikir jernih waktu itu. Aku minta waktu 1 hari untuk membuat keputusan “harus bagaimana”. Dan akhirnya hari yang ditunggu sudah tiba, aku memutuskan kita berjuang secara sehat untuk mendekati si Dora. Aku bangga karena sahabatku berani jujur menyatakan rasa ketertarikannya pada cewek yang aku suka, tapi di satu sisi aku juga sedih karena harus bersaing dengan sahabatku sendiri.

3. Mengalah Bukan Berarti Kalah

Aku dan sahabatku memang sedang bersaing, karena kita bersaing secara sehat. Hubungan pertemanan kita berempat tidak ada yang berubah. Kita tetap pergi makan, nongkrong, nonton film dan tertawa bersama. Aku dan sahabatku membuat komitmen, bahwa kita berdua melakukan yang terbaik dan biarlah dia yang memutuskan memilih diatara kita berdua. Komitmen yang kita bangun membuat kita saling mendukung satu sama lain dalam perjuangan kita, sehingga kita tidak saling menjatuhkan dan hubungan persahabatan kita tetap baik seperti semula. Akhirnya kita berdua sepakat untuk menyatakan perasaan kita kepada si Dora. Dan dengan berat hati si Dora harus memutuskan memilih sahabatku. Aku tanya kenapa dia memilih sahabatku, tapi dia cuma diam. Setelah diam sejenak, si Dora menjawab dengan senyum “Maaf, aku tahu dia pendiam, tapi sebenarnya dia sangat peduli”. Aku mengucapkan selamat untuk sahabatku dan dengan berlapang dada aku mendukung hubungan mereka berdua. Walaupun mereka sudah jadian, hubungan persahabatan kita berempat tetap berlanjut kok.

Guys pernah ngga kalian mengalami hal yang sama? kalau pernah kalian bisa tanya atau beri komentar di bawah artikel ini, danshare juga artikel ini ke temen kalian yah. Thank you.


banner rumah curhat